Ibu.., malam ini aku mengadu dari kejauhan jarak dan waktu. Mencari sosok bijaksanamu yang lekat dijiwamu. Walau masamu kini tlah berlalu. Seakan pusaramu begitu dekat, hingga begitu maya dapat ku gapai. Tigat ahun sudah tiada kujelang pusaramu. Walau hanya sekedar membersihkan rumput liar di sekitar nisanmu. Dan sekedar melantunkan untaian Doa ziarah kubur yang kupanjatkan kehadirat Illahirobbi untukmu.
Maafkan aku Ibu…, hari ini aku kehilanagan ‘Ashar dan Magribku. Hingga tak sempat pula terlantun Doa Birulwalidain sebagai tanda baktiku untukmu. Hati ini terasa miris bu…, ketika waktu berlalu begitu saja meneyeret hari-hariku menapaki langakahku yang tertatih dan lunglai ini. Tidak bisa kembali tuk kuperbaiki. Hilang sudah ‘Asar dan Magrib ku dibawanya pergi tanpa bisa kuraih lagi.
Ibu…, masa masa bersamamu dulu begitu indah. Kenangan kenangan itu kan senantiasa menjadi cahaya penerang dalam gelap langkahku. Kasih saying dan Doa tulus iklasmu senantiasa kau balurkan di jiwa dan raga ini. Tak peduli renta dan sakitmu mendera. Kau lakukan segalanya tanpa keluh kesah. Air matamu begitu bening manakala tertumpah ditengah-tengah tahajudmu yang selalu kau lagukan disetiap malam malammu, semasa hidupmu. Disana kau ukir doa abadi yang hingga kini selalu menjadi titian Shirotol Mustaqim perjalananku. Selaksa kebaikan yang terurai di setiap hembusan nafasmu, telah mengkristal direlung-relung lubuk sanubari ini. Tapak-tapak perjalanan hidup mu meninggalkan jejak-jejak di persadaku dan menghapus seluruh kegersangan yang ada. Sejuk dan damai.
Aku masih ingat ketika kecil dulu, engkau selalu menyuruhku menjajakan kue buatanmu setiap usai sekolah.
“Cah bagus…, kalau sudah makan dan Sholat, Bantu ibu menjual makanan ini ya…?. Semoga ada rizki Alloh buat kita. Sehingga kita bisa beli beras buat besok.”. Ditengah kesejukan yang tergambar di senyumanmu, aku Cuma bisa menjawab
“njih Bu….”.
Setelah kusalami dan kucium jemari tangan Ibu, kuambil dan kutaruh bakul yang berisi Combro, Misro dan pisang goreng diatas kepalaku untuk dijajakan ke seantero kampung Kedawung.
Bu.., kini anakmu sedang belajar menjadi iklas sepertimu. Belajar menjadi Arif dan Bijaksana sepertimu. Sebagaimana yang selalu kau nasehatkan disetiap sehabis Sholat berjama’ah, setelah kau ajarkan beberapa ayat Al-Qur’an kepadaku. Waktu itu, aku mengadu kepadamu:
“Bu…, tadi sore waktu menjual kue, si Kirno makan pisang goreng 2. tapi gak mau bayar..”. Sambil raut muka takut dan mata berkaca-kaca aku utarakan semua keluh kesahku kepada Ibu. Walau jujur saja aku takut akan marahmu. Namun jauh dari dugaanku. Begitu sejuknya kata-katamu menghibur kegundahan hatiku.
”Rahman…, mungkin belum menjadi rizki buat kita. Jangan kau jadikan kegundahan akan hal itu di hatimu. Justru kamu harus mendoakan si Kirno, semoga Alloh SWT memberikan hidayah buat dia, agar dia tidak nakal lagi sama kita”.
Subhanalloh…., betapa damai kurasakan manakala lentik jelmari Ibu mebelai lembut tiap-tiap helai rambut di kepalaku. Kini kau sudah berada jauh di peraduan panjangmu disisi-NYA. Namun alangkah terasa dekat nian di hati dan jiwa ini….., hingga kini. Suara-suaramu begitu merdu terngiang di kedua daun telingaku, membuat kasih dan cintamu senantiasa dekat menemani perjalanan hidupku.
Ibu…, rindu ini bukan rindu seorang petualang. Cinta kasihmu memupuk jiwa dan ragaku tumbuh bersama zaman. Kehidupan yang kau berikan kepadaku akan menjadi mata rantai nisab di Padang Mahsyar kelak. Dan akan menjadi Pohon kamilia bagiku untuk berteduh dari teriknya hari berbangkit.
“Robbighfirlii Waliwaalidayya Warhamhuma Kamaa Robbayaani Soghiroo”
Duh gusti….., Ampunilah dosa-dosaku dan dosa-dosa kedua Ibu dan Bapakku. Sayangilah mereka, sebagai mana mereka menyayangi hamba ketika hamba masih bayi. Amiin……
Gedung Jamsostek, 10-mei- 2008
Pak, semoga Ibunya masuk syorga
Oleh: Riky Kurniawan on 10 Mei, 2008
at 1:24 pm
Pak …, saya tersentuh dan terharu juga membacannya..
Oleh: jajangadi on 22 Mei, 2008
at 9:08 am
Semoga Allah menerima smua Amal Ibadahnya dan diberikan Surga untuk Ibunda tercinta.
Oleh: Nurul Wardani on 26 Mei, 2008
at 6:34 am
menyentuh sekali … semoga amal ibadah ibunda tercinta diterima disisi Allah SWT ya pak….
Oleh: lely on 6 Juni, 2008
at 11:57 am
Hati ini, akan selalu terentuh saat mendengar kata ibu…
Apalagi membaca tulisan ini…diri ini lebih bersyukur lagi karena Allah telah memberikan ibuku, ibu yang terbaik untukku…^_^
Oleh: MyEve on 2 September, 2008
at 9:11 am
aku juga bersyukur punya ibu seperti ibu mas, wla susuah tetap berkorban demi anak2… berusha sekuat tenaga tuk bisa sekolahkan lebih pintar dari beliau.. terima kasih inspirasinya atas kemuliaan hati seorang ibu semoga kelak aku bisa menjadi seorang ibu yg kuat dan tegar dalam hadapi dunia kehidupan ini
Oleh: ayumas on 5 November, 2008
at 9:20 am
*menghapus airmata..*
Tersentuh banget dengan tulisan Mas…
Oleh: Upik on 8 Maret, 2009
at 6:26 am
jadi kangeeennnn…….
Oleh: amik on 30 April, 2009
at 5:10 am
Setiap aliran darahku di ringi doahmu Ibu,
terimakasih mas
Oleh: Dastan Amardin on 9 Mei, 2009
at 6:00 am
pak…. q jd terharu bz baca tulisan bapa’…….
Oleh: rehla sadhya on 4 Desember, 2009
at 11:47 am
Jadi nyesel….
Aku yg tdk pernah menyentuh jemari Ibu, Mencium Wajah Cantik Ibu, Sedih se-x rasanya..
Oleh: Vissa on 13 Juli, 2010
at 3:58 am